 |
Sumber : Google
|
Paulo Freire merupakan seorang tokoh pendidikan brazil dan teoritikus pendidikan yang amat berpengaruh dalam pendidikan dunia (Wikipedia). Freire lahir disebuah kota pelabuhan di Brazil bagian Timur Laut, 19 September 1921. Bukan hanya menjadi seorang tokoh pendidikan dan teoritikus, Freire juga merupakan penulis buku terkenal. Adapun buku yang Freire tulis yaitu Pedagogy of the Oppressed, Pedagogy of fredom, Pedagogy of hope dan masih banyak yang lainnya.
Pada kali ini, kita akan membahasan buku tulisan Freire berjudul Pedagogi of the oppresse atau pendidikan kamu tertindas. Pada buku ini, terdiri atas 4 (empat) bab yang masing masing membahas mengenai hal - hal berikut :
BAB 1
Dalam bab pertama, Freire mengawali penjelasannya dengan menjelaskan
bentuk-bentuk penindasan sebagai suatu jalinan konstruksi sistematis
yang terbalut dalam kebudayaan. Penindasan ialah wujud dari pengekangan,
pengebirian, perlakuan tidak adil yang diterima oleh masyarakat dari
hasil konstruksi kaum penindas.Bentuk - bentuk penindasan inilah yang menjadi asal mula Freire berusaha membongkar tabir dari konstruksi budaya yang terjalin. Ia mengatakan bahwa "Keprihatinan terhadap masalah humanisasi ini akan segera membawa kita
pada pengakuan akan adanya masalah dehumanisasi, bukan saja sebagai
sebuah kemungkinan ontologis, tetapi juga sebagai sebuah realitas
sejarah” (Freire, 2016: 10-11).
Penindasan merupakan hal yang secara historis hadir sebagai realita dalam kehidupan sosial. Hal ini dialami Freire selama bekerja bertahun - tahun dan hidup di tengah masyarakat miskin dan tidak berpendidikan. Dalam lingkungan tersebut terjadi perbedaan kelas yaitu antara masyarakat golongan atas dengan masyarakat golongan bawah. Golongan bawah menjadi semakin tertindas akibat penindasan golongan atas, sebaliknya degan golongan atas mereka semakin kaya dengan segala bentuk penindasan yang mereka lakukan. ondisi penindasan ini bukan suatu keniscayaan yang tidak dapat
diruntuhkan. Justru, perlawanan tersebut muncul sebagai bagian dari
bagaimana manusia berusaha untuk mencapai keutuhan dalam hidupnya.
Keutuhan seorang manusia inilah yang dimaksud sebagai humanis dalam
pandangan Freire. Lawan dari sifat humanis ialah dehumanis. Dehumanis inilah yang menjadi
landasan bagi terciptannya bentuk penindasan di dalam masyarakat.
Freire berargumen bahwa secara berangsur-angsur sistem penindasan justru
akan melahirkan perlawanan dari kaum tertindas itu sendiri. Bagi Freire, perjuangan yang dilakukan oleh kaum tertindas tidak untuk
menjadikan mereka sebagai penindas baru. Melainkan didasarkan pada usaha
untuk menghilangkan secara keseluruhan bentuk penindasan. Freire mengungkapkan bahwa, telah banyak terjadi kasus di mana ketika
seorang individu dari golongan kaum tertindas mendapatkan jabatan
tinggi, misalnya menjadi seorang mandor, ia justru masuk ke dalam
golongan kaum penindas. Kaum penindas mempunyai akses kekuasaan untuk merekonstruksi moralitas dalam kehidupan masyarakat. Kaum penindas berhasil mempengaruhi kerangka pikiran masyarakat bahwa
apa yang terjadi di dalamnya merupakan suatu hal yang ‘normal’
Freire menjelaskan bahwa, penindasan yang diterima oleh kaum tertindas menumbuhkan sikap mendua di dalam dirinya "Mereka menemukan bahwa tanpa kebebasan mereka tidak dapat mengada secara
otentik. Walaupun mereka menyadari hal itu, mereka juga takut padanya.
Mereka adalah dirinya sendiri dan sekaligus para penindasnya, yang alam
pikirannya telah mereka internalisasi. Pertentangan itu terletak dalam
memilih antara menjadi diri sendiri secara utuh atau menjadi diri yang
terbelah; antara melawan kaum penindas atau tidak melawan; antara
solidaritas insani atau keterasingan; antara menaati pola-pola atau
mempunyai pilihan-pilihan; antara menjadi penonton atau menjadi pelaku;
antara bertindak atau cukup dengan berkhayal bertindak melalui kaum
penindas; antara bersuara atau berdiam diri, terkebiri dari kemampuan
berkreasi dan berekreasi, kemampuan untuk mengubah dunia” (Freire, 2016:
18).
Pendidikan
kaum tertindas ini berperan sebagai sarana untuk membongkar segala
bentuk dehumanisasi bagi terwujudnya sifat kemanusiaan yang utuh. Sistem
pendidikan pembebasan ini utamanya mampu diterapkan secara mandiri oleh
kaum tertindas. Karena bertolak dari padangan bahwa, yang mampu untuk
mengatasi kontradiksi antara penindas-tertindas hanyalah mereka yang
merasakannya secara langsung.
BAB 2
Pada bab kedua, Friere menjelaskan praktek penindasan dalam konteks pendidikan. Ia menganalisis bahwa kehadiran “guru” dan peran yang dilakoninya yaitu
“menggurui” dalam konteks pendidikan adalah sebuah usaha tak sadar yang
justru melestarikan praktek penindasan dari kaum penindas itu sendiri. Friere menganggap bahwa dengan kuasanya dalam praktik pembelajaran,
seorang guru membahasakan realitas menjadi suatu hal yang seakan-akan
tidak bergerak, statis, dan terpisah satu sama lain.
Pendidikan yang dilakukan guru semacam itu diistilahkan Friere sebagai konsep pendidikan “gaya bank”. Pendidikan yang dilakukan guru semacam itu diistilahkan Friere sebagai konsep pendidikan “gaya bank” memandang bahwa manusia menyerupai benda yang mudah diatur. Ibarat sebuah "celengan kosong" yang dimana celangan tersebut diisi oleh guru. Semakin penuh guru mengisi celengan tersebut maka semakin baik pula seorang guru. Semakin patuh pula celengan tersebut untuk diisi, maka semakin baik pula peran mereka sebagai peserta didik. Bagi mereka yang sadar bahwa pendidikan “gaya bank” adalah penindasan
maka mereka perlu membuat suatu model pembelajaran lain yang menolak
konsep “gaya bank”. Upaya yang dapat dilakukan yakni dengan meninggalkan
anggapan bahwa pendidikan merupakan usaha menabung pengetahuan dan
beralih kepada pandangan bahwa pendidikan merupakan usaha untuk
memecahkan masalah-masalah kemanusiaan yang berhubungan dengan kehidupan
sosialnya
Freire, mengistilahkan model pembelajaran ini dengan nama pendidikan “hadap-masalah”. Bagi Freire, konsep pendidikan “hadap-masalah” akan menciptakan
kesadaran manusia serta mewujudkan kesadaran akan bentuk komunikasi yang
tidak hierarkis. Konsep ini akan membebaskan baik secara perilaku
maupun pemahaman seorang murid. Di samping itu, konsep ini bukan hanya
sekedar pengalihan-pengalihan pengetahuan yang tanpa sadar. Dia
merupakan situasi belajar di mana objek yang dapat dikenali dan
diketahui tidak hanya akan berakhir pada tahap pemahaman saja, namun ia
akan terus mencari dan menghubungkan secara dialogis (guru-murid)
pemahaman yang ia peroleh ke dalam realitas kehidupannya.
BAB 3
Pada pembahasan sebelumnya, Paulo Freire memberikan keterangan bahwa
pendidikan model kontemporer adalah praktik pendidikan yang merupakan
cerminan dari bentuk penindasan dalam masyarakat. dalam pendidikan model ini guru merupakaan subyek yang dianggap memiliki
pengetahuan sehingga murid sebagai obyek dengan ketidaktahuannya
dianggap sebagai tempat deposit pengetahuan belaka. Bagi Freire, pengetahuan yang sejati ialah harus mampu melakukan
penemuan-penemuan melalui penyelidikan secara terus menerus ke dalam
realitas kehidupan. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh apabila guru
dan murid mampu bekerja sama dalam proses penyelidikan.
Paulo Freire mencoba mencari isi program pendidikan yang bermula pada
penelitian dari apa yang diistilahkanya “dunia tema” (thematic
universe). Rakyat – sebagai kompleksitas dari “tema-tema generatif”
(generative themes) – mengesahkan dialog pendidikan sebagai praktik
kebebasan. Metode penelitian itu dilakukan secara dialogis, yang mana objek dari
penelitian ini bukanlah manusianya (dalam arti manusia sebagai serpihan
anatomis), tetapi lebih pada bahasa pikiran manusia yang digunakan untuk
memahami realitas, serta tingkatan-tingkatan mengenai realitas dunianya
yang menjadi sumber dari semua tema-tema generatif mereka.
Selanjutnya yaitu penelitian mengenai istilah “tema-tema generatif”. Dia hanya dapat dipahami dalam hubungan manusia-dunia, tidak dapat ditemukan dalam diri manusia yang terpisah dari realitas,
juga tidak dalam realitas yang terpisah dari manusia, apalagi dalam
“bukan bumi manusia”. Proses pencarian “tema-tema generatif” harus mencakup letak keterkaitan
antar setiap tema, pengungkapan tema-tema itu sebagai permasalahan, dan
konteks sejarah dan kebudayaanya. Tahap pertama, pendidikan hadap-masalah mencari dan meneliti “kata
generatf”. Dalam tahap kedua mencari dan meneliti “tema-tema generatif”.
Dengan semua materi pendidikan yang telah disiapkan, hendaknya ditambah
dengan buku-buku pedoman sederhana. Kelompok kerja pendidik telah siap
menyajikan kembali kepada penduduk tema-tema mereka sendiri, dalam
bentuk yang sistemik dan terurai. Tema-tema yang datang dari penduduk
kembali lagi kepada mereka – bukan sebagai barang-barang untuk ditabung,
melainkan sebagai masalah-masalah yang harus diselesaikan. Dengan demikian, penjelasaan contoh di atas merupakan sebuah metodologis
yang dipaparkan oleh Paulo Freire mengenai konsep sistem “pendidikan
hadap-masalah”. Hal yang penting dari sudut pandang pendidikan
membebaskan menurut Freire yakni agar manusia merasa tuan bagi
pemikiranya sendiri. Berdiskusi mengenai pemikiran dan pandangan tentang
dunia yang secara jelas atau tersamar terungkap di dalam tanggapan
mereka sendiri.
BAB 4
Pada bab ini, Freire kembali menegaskan bahwa manusia sebagai makhluk yang praktis. Manusia muncul dari dunia, mengenalinya, dan dengan cara itu dapat
memahami dan mengubah dunia melalui karya mereka. Para pemimpin tidak
boleh memperlakukan kaum tertindas hanya sebagai pelaku yang tidak
diberi kesempatan untuk melakukan refleksi. Di samping itu, mereka
dibiarkan dalam ilusi bertindak agar dapat mempertahankan posisi mereka
sebagai objek dari manipulasi.
Dalam bab ini pula Freire membadingkan antara pendidikan antidialogis dan pendidikan dialogis.
Model pendidikan antidialogis selalu ditandai dengan usaha menguasai
manusia, sedangkan model pendidikan dialogis selalu bersifat kooperatif
(kerja sama).
PENDIDIKAN ANTIDIALOGIS
a) Penaklukan
Watak pertama dari antidialogis adalah keharusan adanya penaklukan dalam hubungan dengan manusia lain. ubungan terjadi sedikit demi sedikit dengan segala cara, dari yang
paling kasar hingga paling halus, dari yang paling menekan sampai paling
tidak terasa. Hal tersebut bertujuan agar menghadirkan “dunia palsu”
bagi pemikiran kaum tertindas untuk menambah keterasingan dan pasifitas
mereka. Kaum penindas mengembangkan suatu rangkaian metode yang
menghindari semua bentuk penyajian dunia sebagai masalah. Cara yang mereka lakukan ialah dengan membangun mitos-mitos untuk
dikonsmumsi oleh kaum tertindas. Contohnya, siapapun yang rajin bekerja
dapat menjadi pengusaha. Mitos lain ialah persamaan derajat manusia
dengan membangun pertanyaan, “tahukah kamu berbicara dengan siapa?”
masih berlaku di antara kita (Freire, 2008: 150)
b) Pecah Dan Kuasai
Cara ini merupakan dimensi penting yang lain dari teori tindakan
menindas yang selaras dengan penindasan itu sendiri. Setelah minoritas
kaum penindas menaklukkan dan menguasai mayoritas rakyat, mereka harus
memecah belah dan menjaga agar tetap seperti itu. Hal ini dilakukan
dengan berbagai cara, dari metode penekanan melalui birokrasi pemerintah
hingga bentuk-bentuk kebudayaan. Misalnya, dalam bentuk aksi
kebudayaan, mereka memanipulasi rakyat dengan memunculkan kesan
seolah-olah sedang memberi pertolongan. Dampak dari pemecahan tersebut mengakibatkan semakin lebarnya
keterasingan masyarakat. Semakin jauh rakyat terasing, semakin mudah
untuk memecah belah dan memelihara perpecahan tersebut. Dengan
menekankan cara hidup yang terkotak-kotak dari kaum tertindas (terutama
di daerah pedalaman), menghalangi kaum tertindas untuk memahami realitas
kehidupan secara kritis dan menjauhkan mereka dari masalah-masalah
penindasan di daerah lain.
c) Manipulasi
Manipulasi adalah dimensi lain dari teori tindakan antidialogis dan
seperti halnya strategi pemecahan, manipulasi juga merupakan alat untuk
menaklukkan; tujuan di mana semua dimensi teori berkisar. Dengan cara
manipulasi, elite penguasa berusaha membuat rakyat menyesuaikan diri
dengan tujuan-tujuan mereka. Semakin rendah kesadaran politik rakyat (di
desa maupun kota), semakin mudah mereka dimanipulasi oleh elit penguasa
yang tidak ingin kehilangan kekuasaannya. Dalam konteks penindasan, rakyat yang masuk sebagai golongan kaum
tertindas hanya memiliki dua kemungkinan untuk memasuki proses sejarah:
apakah mereka berorganisasi secara murni bagi pembebasan dirinya, atau
mereka akan dimanipulasi oleh kaum elite. Organisasi murni sudah tentu
tidak ditimbulkan oleh kaum penguasa; ini merupakan tugas para pemimpin
revolusi.
d) Serangan Budaya
Serangan budaya dapat dipahami seperti halnya taktik memecah belah,
manipulasi, serta melayani tujuan penaklukkan. Dalam gejala ini para
penyerang menyusup ke dalam lingkungan kebudayaan kelompok lain dan
tanpa menghiraukan potensi kebudayaan tersebut. Mereka memaksakan
pandangan dunianya sendiri kepada orang-orang yang mereka serang dan
menghambat kreatifitas kaum yang diserang dengan mengendalikan
ungkapan-ungkapan kejiwaan mereka. Penaklukkan budaya mengakibatkan ketidak murnian dari mereka yang
diserang; mereka kemudian melayani nilai-nilai, patokan-patokan, serta
tujuan-tujuan para penyerang. Hal ini bertujuan untuk mencetak orang
lain sesuai dengan pola dan gaya hidupnya.
PENDIDIKAN DIALOGIS
a) Kerjasama
Dalam tindakan dialogis, para pelaku berkumpul dan bekerja sama untuk
merubah dunia. Hal ini berarti bahwa dalam tugas dialogis tidak ada
peran bagi kepemimpinan revolusi. Itu hanya berarti para pemimpin terlepas dari perannya yang penting, mendasar, dan tidak terelakkan tidak memiliki rakyat dan tidak berhak menyetir rakyat. Kerja sama
sebagai suatu ciri dari tindakan dialogis yang berlangsung hanya di
antara pelaku-pelaku (yang tentunya dari berbagai tingkat dengan
bertanggung jawab) hanya dapat dicapai melalui komunikasi. Dialog tidak
memaksakan, memanipulasi, menjinakkan, serta tidak hanya sekedar
“slogan”. Namun demikian, itu tudak berarti bahwa teori tindakan
dialogis tidak mempunyai tujuan; tidak juga berarti bahwa manusia
dialogis tidak memiliki gagasan yang jelas mengenai apa yang
dikehendakinya, atau tujuan-tujuan yang menjadi kepentingannya.
b) Persatuan Untuk Pembebasan
Dalam teori dialogis para pemimpin harus menyerahkan dirinya dalam usaha
tanpa kenal lelah bagi persatuan kaum tertindas –dan persatuan para
pemimpin dan kaum tertindas– untuk mencapai pembebasan. Kesulitannya
adalah bahwa kategori tindakan dialogis ini (seperti juga yang lain)
tidak dapat terwujud di luar praksis. Praksis penindasan itu mudah bagi
elite penguasa; namun tidak mudah bagi para pemimpin revolusi untuk
melakukan praksis pembebasan
c) Organisasi
Dalam teori tindakan dialogis organisasi rakyat merupakan lawan
antagonistis (bertentangan dengan dialogis) dari manipulas ini.
Organisasai bukan hanya berkaitan langsung dengan persatuan, namun juga
merupakan perkembangan yang wajar dari persatuan ini. Oleh karena itu,
usaha para pemimpin dalam hal persatuan niscaya juga suatu usaha untuk
mengorganisasi rakyat, yang menuntut kesaksian bagi kenyataan bahwa
perjuangan bagi pembebasaan adalah tugas bersama, kesaksian yang mantap,
rendah hati, serta keberanian yang keluar dari kerja sama dalam suatu
usaha bahu-membahu –dalam pembebasan manusia– menjauhkan dari bahaya
praktek antidialogis
d) Sintesa Kebudayaan
Aksi kebudayaan senantiasa merupakan suatu bentuk tindakan yang
sistematis dan terencana yang ditujukan pada struktur sosial, baik
dengan tujuan melestarikan maupun mengubahnya. Aksi budaya dialogis
tidak mempunyai sasaran hilangnya dialektika keajekkan perubahan (suatu
sasaran yang tidak mungkin sebab hilangnya dialektika tersebut akan
menuntut hilangnya struktur sosial itu sendiri dan dengan demikian
manusianya); melainkan sasarannya adalah mengatasi berbagai kontradiksi
antagonistis dalam struktur sosial tersebut
Cukup sekian yang dapat saya sampaikan, jika terdapat kesalahan baik dalam pengetikan atau penggunaan bahasa yang kurang tepat mohon dimaafkan. Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai akhir, semoga hal baik dalam tulisan ini dapat dijadikan manfaat yang besar
Komentar
Posting Komentar